Home

KALENDER KEGIATAN


Lihat Selengkapnya

INFO BEASISWA UI

Kemahasiswaan UI

Selembar Madani This Month!

 
 
 Click here to get Selembar Madani 

Sahabat Kita

 
mahasiswa ui
 
 

 
www.fsifeui.org
 
 
 
www.ukhuwah.or.id
 
 
8 Seruan Ramadhan

8 (Delapan) SERUAN RAMADHAN 1429 Hijriyah SALAM UI

Dalam rangka Tarhib (menyambut) bulan Ramadhan 1429 H di lingkungan Kampus Universitas Indonesia dan segenap LDK di seluruh nusantara

 

Bismillahirrahmanirrahim

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Ramadhan telah datang Sya’ban dan Rajab telah berlalu. Dua bulan tersebut telah Allah siapkan untuk kita sebagai ajang latihan menyambut bulan ‘jihad’ sesungguhnya, yaitu Ramadhan yang diberkahi. Maka sepatutnya lah kita sebagai umat Islam menyambutnya gegap gempita. Selayak menerima kedatangan tamu agung luar biasa. Jikalau pejabat saja datang ke suatu tempat dipersiapkan dengan seksama dan sebagus mungkin, maka seharusnya dalam menyambut Ramadhan harus lebih dari itu. Karena ia lebih agung dari pejabat mana pun, sekalipun seorang presiden. Karena presiden pun menyambutnya dengan penuh hormat. Betapa agungnya bulan tersebut, bulan Ramadhan.

Bulan Ramadhan tidak saja membawa keberkahan bagi umat Islam, tetapi juga menjadi bagian kebahagiaan tersendiri bagi umat lain. Karena di bulan inilah seruan untuk menjalin silaturahim antar sesama umat manusia digaungkan. Di bulan inilah kebaikan ditabur hingga pelosok negeri. Di bulan inilah kebersamaan antar umat manusia digemakan. Maka tidak salah jika bulan Ramadhan tidak saja dijadikan bulan kegembiraan bagi umat Islam, tetapi menjadi bulan kedamaian bagi umat lain. Maka bersama lah kita menjadikan bulan Ramadhan sebagai bulan kebersamaan antar umat manusia. Dengan menebarkan kedamaian, silaturahim, kebajikan dan solidaritas terhadap sesama.

Dengan menyadari betapa agungnya bulan Ramadhan, maka kami selaku Lembaga Dakwah Kampus Nasional SALAM Universitas Indonesia, menyerukan:

  1. Seruan Kebaikan

Ramadhan adalah bulan yang bertabur kebaikan. Maka kami menyerukan kepada seluruh sivitas kampus Universitas Indonesia untuk menebar kebaikan dengan cara saling berbicara baik (qoulun ma’rufun), selalu mengajak kepada kebaikan (ta’muruna bil ma’ruf), dan saling berhubungan yang baik (mu’syarah bil ma’ruf). Seruan ini bertujuan untuk terus menjaga silaturahim antar sivitas kampus UI. Tidakkah kita berbahagia ketika kehidupan di kampus ini harmonis. Antar sesama kita, birokrat, dosen, karyawan, mahasiswa, pedagang kantin, tukang ojek, pak sopir bikun. Semua saling menyapa dengan kasih sayang. Mahasiswa tidak kesulitan kuliah karena bayaran. Dosen dan karyawan tidak kesulitan mencari nafkah karena gaji. Tidak ada yang saling mengambil keuntungan. Tidak ada yang saling mengumpat. Tidak ada yang saling ini dan itu. Betapa indah kampus ini jika yang diserukan adalah kebaikan. Ayo, mari bersama-sama kita serukan kebaikan (ma’ruf).

  1. Saling Menghormati

Kami menyerukan kepada mereka yang tidak menjalani ibadah puasa, baik karena alasan syar’i (sakit, wanita datang bulan, uzur, atau bekerja keras, dll) atau umat beragama lain, untuk menghormati mereka yang sedang menjalankan ibadah puasa dengan tidak makan dan minum atau merokok di tempat umum selama ibadah puasa berlangsung. Juga bagi para penjual makanan dan minuman untuk memperhatikan adab selama bulan Ramadhan. Seruan ini untuk menjaga keharmonisan dan kebahagiaan di bulan yang mulia ini. Mohon dimaklumi.

  1. Teladan Mahasiswa Baru

Bulan Ramadhan kali ini sungguh sangat spesial bagi seluruh sivitas kampus. Karena di bulan ini datang semangat dan jiwa-jiwa baru yang akan menghiasi kampus ini dengan berjuta prestasi. Mereka ibarat benih yang baru saja ditanam, siap untuk disirami dengan air didikan dan dipupuki dengan pengetahuan. Oleh karena itu, kami menyerukan kepada para kakak kelas, dosen, karyawan dan seluruh sivitas kampus untuk memberikan teladan yang baik bagi mahasiswa baru. Ramadhan merupakan momen yang sungguh sangat pas bagi kita menunjukkan jati diri yang sebenarnya. Mereka membutuhkan contoh yang baik untuk diikuti. Maka tanggung jawab kita untuk menuntunnya.

  1. Memperbaiki Akhlak dengan Memperhatikan Pakaian

Bulan Ramadhan merupakan bulannya taubat dan istighfar. Perbanyaklah mengingat Allah agar semakin tentram hati-hati kita. Bulan inilah bagi diri-diri yang dhoif (lemah) meminta ampunan dan memperbaiki akhlak. Sungguh banyak kisah di bulan ini yang menjadi titik balik bagi mereka yang merasakan kenikmatan mendekat kepada Rabb Sang Pencipta. Yang memiliki Asmaul Husna (nama-nama Allah) dan Arasy (singgasana) yang Agung. Oleh karena itu, kami menyerukan kepada segenap rekan-rekan mahasiswa/I dan sivitas Universitas Indonesia untuk sama-sama kita memperbaiki akhlak. Membenahi cara berpakaian kita menjadi lebih sopan dan beradab. Hindari pakaian yang mengumbar aurat. Terlebih bagi kaum Hawa (wanita). Allah telah menganugerahkan keindahan kepada kalian. Maka sempurnakan keindahan tersebut dengan akhlak yang indah pula. Rasulullah berkata, itulah perhiasan dunia.

  1. Hentikan Kemaksiatan di Lingkungan Kampus

UI merupakan salah satu kampus terbaik di negeri ini. Menjadi panutan dan harapan bagi seluruh komponen masyarakat. Tetapi sayang, cukup sering kampus ini dijadikan tempat untuk berbuat mesum oleh mereka yang tidak bertanggung jawab. Kebanyakan dari mereka justru orang luar yang tidak punya hubungan apapun dengan kampus ini. Sepanjang jalan protokol UI, hutan asrama, pinggir danau balairung atau asrama, halte-halte bis kuning, atau sekitar stadion. Sungguh sangat ironi. Walau satpam UI kerap kali turun tangan, tetapi tetap tidak membuat perilaku amoral ini berkurang. Oleh karena itu, kami menyerukan kepada segenap sivitas, wabil khusus bapak-bapak satpam yang kita hormati untuk menindak dengan tegas para pelaku amoral di lingkungan kampus tercinta ini. Ketegasan ini untuk menjaga citra UI dari hal-hal yang negatif di masyarakat. Bukan hanya saat bulan Ramadhan, tetapi bulan-bulan berikutnya.

  1. Solidaritas Dunia Islam

Umat Islam merupakan umat yang satu. Di mana pun ia berada, di timur, di barat, di utara maupun di selatan semuanya satu tubuh. Tidak ada yang dapat memisahkannya. Karena Islam tidak mengenal tapal batas negara, nasionalisme sempit atau kesuku-sukuan (chauvinisme). Ramadhan merupakan bulan pemersatu. Oleh karena itu, kami menyerukan kepada segenap umat Islam di kampus ini dan seluruh kaum muslimin dimana pun berada untuk merapatkan barisan, dan tetap mendukung perjuangan umat Islam yang masih mengalami penindasan di mana pun mereka berada. Terlebih bagi umat Islam yang berada di tanah dan masjid suci ketiga, Palestina (Masjidil Aqsha). Masukkan mereka dalam do’a-do’a kita, sertai mereka dalam memori kita. Semoga Allah mengabulkannya, amin..

  1. Saling berbagi

Tentu kita tidak lupa, bahwa segala nikmat yang diberikan kepada kita ada hak-hak orang lain yang harus kita tunaikan. Maka sungguh Ramadhan merupakan momen yang luar biasa untuk menunjukkan rasa kepedulian kita terhadap sesama. Maka kami menyerukan agar selama Ramadhan ini, hiasi hari-hari kita dengan saling berbagi. Keberkahan Ramadhan bukan untuk umat Islam saja, tetapi bagi segenap manusia di bumi ini.

  1. Kebersamaan antar sivitas

Kesempatan yang sangat baik bagi seluruh komponen kampus untuk berkumpul bersama bersilaturahim mengungkap kebahagiaan. Sebagai wujud syukur atas nikmat kebersamaan yang telah diberikan kepada keluarga besar UI. Maka kami menyerukan kepada seluruh sivitas UI, untuk terus menjalin kebersamaan di bulan suci Ramadhan dengan mengadakan Ifhtor atau Buka Puasa Bersama. Setelah Ramadhan dengan mengadakan Silaturahim sivitas kampus. Silaturahim ini bertujuan untuk menunjukkan karakter kebersamaan UI sebagai keluarga besar kampus.


Demikian 8 (Delapan) butir SERUAN RAMADHAN 1429 H SALAM UI ini kami serukan. Dengan segenap harapan agar dapat menambah kekhusyukan dalam menjalankan ibadah Ramadhan 1429 H. Kita sama-sama menginginkan agar Ramadhan di kampus Universitas Indonesia ini berkesan dan membawa dampak positif bagi perubahan diri, bangsa dan negara. Karena di kampus inilah harapan itu diletakkan, sebagai amanat rakyat bagi kesejahteraan Indonesia. Semoga Allah memberkahi dan meridhoi usaha-usaha kita. Amin.

Wabillahi Taufik Wal Hidayah,

Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh


Atas nama,

LDK Nasional SALAM UI Dekade 1


8 Seruan Ramadhan 1429 H ini dikeluarkan oleh Sekjen SALAM UI bekerja sama dengan Panitia PERAK (Pelita Ramadhan Kampus) 1429 H, Humas SALAM UI, Med-C SALAM UI, BMS SALAM UI dan Dept. Syiar Pesona SALAM UI.



 
Pergerakan Perempuan.. Dulu, Kini, dan Nanti..

Oleh: Hazlinda Aziz*

Sejarah awal pergerakan

Saat bangsa ini terus merintis kemajuannya demi meningkatkan martabat di mata bangsa lain, kepingan sejarah yang diciptakan oleh orang-orang berani dan bermisi kuat pun terus bertambah. Jika kita mau menelurusi kepingan-kepingan sejarah tersebut, maka jangan terkejut jika kita  banyak menemukan peran wanita di dalamnya.

Tahun 2008 ini kita memperingati seratus tahun kebangkitan Nasional tahun 1908. Dalam seratus tahun perjalanan sejarah bangsa kita, kiprah perempuan Indonesia yang mengambil bagian dalam memajukan berbagai bidang kehidupan tidak bisa dilupakan begitu saja. Perempuan adalah bagian yang berhubungan sangat erat dengan masalah kesejahteraan masyarakat. Pada saat krisis perekonomian, perempuanlah yang paling merasakan akibat dari krisis tersebut. Namun dalam keadaan yang kritis, tak jarang pula perempuan lebih mempunyai inisiatif, bangkit dan menggerakkan masyarakat sekitarnya untuk memperbaiki kondisi perekonomian, mulai dari perekonomian keluarga hingga meluas ke perekonomian masyarakat.

Dilihat dari lembaran sejarah perjuangan bangsa, gerakan kebangkitan nasional berawal dari politik etis Hindia-Belanda yang memberi kesempatan bagi pemuda Indonesia untuk mengecap pendidikan di sekolah. Sebenarnya maksud dari politik pemerintah Hindia-Belanda adalah untuk menghasilkan pekerja seperti buruh-buruh yang terdidik, guru-guru, birokrat rendahan, serta dokter-dokter yang bisa menangani penyakit kaum pribumi. Dengan demikian mereka bisa menekan biaya operasional tanah jajahan (Indonesia) yang terlalu mahal bila menggunakan tenaga impor dari Belanda. Namun ternyata politik ini memberi manfaat tersendiri bagi pemuda Indonesia. Pencerahan dalam dunia pendidikan yang mereka dapatkan menuntut jiwa muda mereka untuk mulai bergerak memperjuangkan kebangkitan bangsa ini untuk menuju kemerdekaan nantinya. Hingga tahun 1908 berdirilah organisasi Budi Utomo yang menjadi titik kebangkitan nasional. Sebenarnya jauh sebelum Budi Utomo dikukuhkan, telah lahir nama-nama pejuang perempuan yang ikut berperan dalam memperjuangkan kemerdekaan.

Sebut saja nama Keumala Malahayati atau dikenal dengan Laksamana Malahayati yang menjadi Panglima Perang Armada Laut Wanita saat Aceh diperintah oleh Ali Riayat Shah (1586-1604), Alaudin Riayat Syah (1604-1607), dan Iskandar Muda (1607-1636). Dalam buku Vrouwelijke Admiral Malahayati karangan Marie van Zuchtelen, Malahayati diceritakan memimpin armada yang terdiri atas 2.000 prajurit perempuan. Selain Malahayati, kita kenal juga Martha Christina Tiahahu (1801-1818), Cut Nyak Dien (1850-1908), yang perjuangannya dilanjutkan anaknya, Cut Meurah Gambang, Cut Meutia, Pocut Baren, dan banyak lagi pejuang wanita di sana.

Memasuki era perjuangan perempuan tanpa senjata, lahirlah seorang pejuang perempuan bernama R.A. Kartini (1879-1904) yang berjuang dalam memajukan pendidikan bagi kaum perempuan. Beliau menggugah kesadaran masyarakat pada saat itu dengan mengganti pola pikir keliru yang menyebutkan bahwa perempuan tidak perlu mengecap pendidikan, dengan pola pikir kemajuan yang menuntut kaum perempuan untuk juga merasakan pendidikan di sekolah. Tidak hanya si Sekolah Rendah, melainkan harus dapat melanjutkan ke sekolah yang lebih tinggi, seperti halnya kaum laki-laki.

Tentu saja, tidak hanya Kartini yang berjuang dalam meningkatkan taraf hidup kaum perempuan. Ada banyak perempuan yang tersebar di Nusantara yang juga menjadi pejuang kaum perempuan untuk menjadi lebih baik dan maju. Sejarah mencatat beberapa nama seperti Rohana Kudus yang menaikkan nama perempuan di kalangan jurnalis Indonesia, Rasuna Said yang menjadi perempuan pertama yang ditangkap kemudian dipenjara karena pidatonya yang mengecam tajam ketidakadilan pemerintah Belanda pada tahun 1932 di Semarang, kemudian ada juga Ny. Dahlan yang membangun kajian ta’lim untuk Ibu-Ibu walau masih terbatas di kawasan pondok-pondok.

Untuk mewujudkan cita-cita peningkatan kualitas pendidikan di kalangan perempuan, maka kekuatan masapun dirasa perlu. Oleh karena itu pejuang perempuan pada masa itu membentuk suatu organisasi perempuan yang akan mewadahi cita-cita mereka. Berawal dari Putri Mardika, sebuah organisasi formal perempuan yang didirikan di Jakarta pada tahun 1912, organisasi-organisasi formal perempuan pun bermunculan di berbagai daerah. Menjamurnya organisasi perempuan di negeri ini memunculkan gagasan untuk menyatukan pikiran dalam sebuah pertemuan akbar, dan dengan usaha kuat di tengah-tengah masa jajahan akhirnya berhasil diadakan Kongres Perempuan Indonesia tingkat nasional pertama pada tanggal 22 Desember 1928 di Yogyakarta, dimana hampir 30 organisasi perempuan yang hadir pada saat itu. Kongres akbar yang menjadi fondasi pertama gerakan perempuan tersebut menghasilkan federasi organisasi yang bernama Persatoean Perempoean Indonesia (PPI) yang pada tahun berikutnya berubah nama menjadi PPII (Perikatan Perhimpunan Istri Indonesia).

Dari untaian sejarah yang mengagumkan, dapat kita simpulkan bahwa sesungguhnya Nusantara yang luas seakan sempit ketika perjuangan tak mengenal batas. Di masa jajahan penuh kekangan ditambah dengan teknologi komunikasi yang jauh lebih sederhana dari sekarang ini, pejuang perempuan pada masa itu bisa dengan sukses mengumpulkan puluhan organisasi perempuan yang tersebar di Nusantara dalam satu kongres besar. Ternyata benar adanya, pejuang dan pemimpin yang lahir dari zona ‘tidak aman’ akan tumbuh kuat dan tangguh.

Pencapaian hingga saat ini

Dari usaha keras antar generasi yang dilakukan oleh pejuang terdahulu, banyak sekali manfaat yang bisa kita rasakan saat ini.

Pada 1947, Maria Ulfah menjadi menteri wanita pertama saat dipercaya sebagai Menteri Sosial. Sementara itu, angka keterwakilan perempuan di kursi legislatif, walau perlahan, mengalami kenaikan dari waktu ke waktu. Dari hanya 9 orang (3,8 persen dari semua anggota) pada 1950-1955, saat ini menjadi 45 orang (9 persen).

Di dunia pendidikan, perempuan pun telah mendapatkan hak yang sama dengan laki-laki. Tidak hanya di tingkat SD dan SMP, di kampus-kampus jumlah mahasiswa perempuan juga tidak kalah dengan jumlah mahasiswa yang laki-laki. Hal lain yang patut disyukuri adalah Munculnya kelompok-kelompok kajian Islam perempuan, yang justru menjamur di kampus-kampus negeri.


Tantangan pergerakan

Pergerakan perempuan yang berjalan dari masa ke masa tentu tidak berhenti sampai di sini saja. Seiring kemajuan bangsa, tantangan pergerakan juga akan terus hadir. Bahkan untuk kualitas pendidikan, sampai saat ini kita masih harus berjuang untuk menyetarakannya dengan negara-negara lain yang lebih berkembang. Untuk kasus kaum perempuan sendiri, di kalangan Ibu-Ibu masa kini bahkan masih perlu diberikan pencerdasan yang benar sesuai dengan aqidah Islam. Saat ini banyak sekali kaum Ibu yang bangga melihat anaknya mengumbar aurat di muka umum, asal terkenal dan berpenghasilan tinggi dianggap sudah sangat membanggakan. Hal-hal seperti inilah yang harus diluruskan. Emansipasi boleh, tapi jangan disamakan dengan gaya barat, karena emansipasi kita jelas berbeda dengan emansipasi gaya barat, emansipasi kita harus melihat kembali kepada Fiqh Islam.

Terakhir, tantangan dalam karya. Karena perjuangan dalam karya adalah investasi pengetahuan untuk generasi mendatang. Sama seperti pejuang terdahulu, kita tentu menginginkan perjuangan kita saat ini bisa dilanjutkan oleh anak cucu kita nanti. Banyak sekali pejuang perempuan pada masa lampau yang ikut berjuang mulai dari memajukan martabat perempuan hingga berjuang merebut kemerdekaan, namun mengapa seolah-olah hanya ada Kartini saja, mengapa nama beliau begitu besar dan harum di kalangan aktivis perempuan dari masa ke masa? Jawabannya adalah karena Kartini meningalkan karya sehingga bisa dinikmati sampai kapanpun oleh generasi penerus, sehingga sejarah pun akan mengenangnya bersama karya-karya itu sebagai bukti sejarah yang ditinggalkannya.

*: Anggota Kelompok Studi Perempuan SALAM UI, Mahasiswi Fasilkom angkatan 2006


 

 
Kalender Kegiatan Dakwah Kampus