INFO BEASISWA UI
| Kemahasiswaan UI |
|
| Budaya Telat |
|
|
|
| Ditulis Oleh Administrator | |
| Tuesday, 29 April 2008 | |
|
Pilihannya Hanya Dua: Jadi Tukang Telat
atau Si on time!
oleh Nisa Nur Fauziah
Mungkin
telat sudah menjadi sebuah rutinitas menjelma budaya bagi saya, anda, kita.
Kita juga telah sama-sama “berlapang dada” sepertinya menerima label seperti itu. Toh, tidak
ada masalah dengan budaya telat ini, banyak yang mengetahuinya, menjadi
oknumnya, dan kita menerimanya. Lalu sampai kapan budaya telat ini hinggap di
label kita, di label negeri kita?Entahlah, sampai kita sama-sama menyadari
bahwa telat itu benar dan atau salah.
Masalahnya
satu: telat itu salah!
Budaya
telat itu salah, tidak peduli seberapa besar penerimaan kita, seberapa besar
sikap toleransi yang kita tunjukkan. Terlalu banyak rasa tidak enak yang
mencuat saat kita telat, bersalah kepada orang yang diajak ketemu, bersalah
kepada suatu acara atau lembaga, bersalah kepada waktu, setidaknya merasa
kecewa dengan diri sendiri. Kalaupun hal itu tidak kita rasakan lagi saat ini,
boleh jadi itu karena kita terlalu sering mengacuhkan “alarm” hati yang berteriak-teriak saat kita telat. So, jadilah ia soak dan mati. Dan telat,
statusnya tetap salah.
Fenomena
telat ini menjamur subur di alam bangsa kita, tidak hanya ibu rumah tangga,
pejabat, karyawan, mahasiswa semuanya cukup dekat dengan budaya ini. Ada-ada
saja cerita miris seputar jam karet. Bahkan hal ini juga melanda kaum intelek
muda, kita, mahasiswa. Seorang mahasiswa adalah makhluk cerdas yang telah
memasuki usia dewasa muda. Mereka memiliki kemampuan berpikir yang cukup
intelek dan kritis, terutama terkait dengan hal-hal berbau “salah”. Mahasiswa
katanya dekat dengan hal-hal yang bersifat inovatif dan kreatif.
Semangat
pembawa perubahan, kental berputar-putar dalam jiwa-jiwa muda bangsa ini. Dalam
kasus budaya telat, pandangan yang dilontarkan pun cukup ‘logis’, seperti yang
diungkap salah satu mahasiswa psikologi yang mengatakan “Masalahnya, budaya telat ini sudah mewabah, orang yang awalnya tidak
telat, lama-lama jadi conform
dengan lingkungan.” Budaya telat bagaikan lingkaran setan. Seseorang malas
datang ontime karena toh yang lain telat, akhirnya yang terjadi masuklah
ia dalam barisan geng telat. Energi
konformitas yang cukup pekat.
Lebih
lanjut lagi, seorang mahasiswa FMIPA Departemen Fisika 2005 memaparkan pendapatnya
“Emm.. gimana ya… masalahnya dosennya
sendiri yang mendoktrin jangan telat, datangnya telat setengah jam, ya kita
mahasiswanya mengikuti keadaan.” Atau mahasiswa ekonomi yang tersenyum
prihatin lalu berkata “|Itu udah habit,
susah!”
Ya,
habit yang melanda kaum intelek ini
sebenarnya adalah masalah serius yang tidak disikapi dengan sama seriusnya oleh
masing-masing diri kita. Potensi, kemampuan, pikiran, dan gerakan yang dimiliki
mahasiswa “sedikit” tidak optimal hanya karena jam karet, apapun alasannya.
Misalnya saat kita hendak aksi menuntut sebuah perubahan yang lebih baik,
persiapannya aksi saja bisa telat sampai 2 jam, jadi wajar kalau akhirnya aksi
kita pun tidak optimal.
Atau
seorang mahasiswa yang sayangnya terlambat masuk kuliah sehingga kehilangan beberapa
paragraf kalimat “sakti” dosennya di awal perkuliahan. Kalau tetap menjadi habit, memasuki dunia profesi kelak, lucu
sekali saat kita temukan seorang dokter yang tidak bisa menangani pasiennya
yang terkena serangan jantung karena telat beberapa detik, atau pengusaha yang
gagal menjalin kerja sama karena telat datang rapat. Sehingga beragamnya
apologis yang kita tuturkan tidak dapat merubah statement bahwa telat
adalah sebuah kesalahan.
Pepatah
bijak mengatakan “Kalau anda tidak mau
berusaha keluar dari gelapnya kesalahan, maka jangan berharap dapat merasakan
terangnya kebenaran.” Budaya telat merupakan kesalahan kolektif insan-insan
di bumi pertiwi ini, namun perlu disadari juga bahwa budaya telat merupakan
akumulasi dari kesalahan-kesalahan individu yang tidak mendapatkan sanksi.
Terlepas dari masalah sanksi, mari kita selesaikan terlebih dahulu dari kesalahan
individunya. Dan itu terkait dengan diri kita. Apakah anda ingin tetap menjadi
seorang tukang telat yang tentunya bersalah atau maukah anda beralih status
menjadi si on time? Keputusan itu yang harus kita tentukan dahulu, dan mari
kita putuskan bersama.
Setelah
itu, tahapan kedua adalah berusaha komitmen yang diiringi dengan usaha. Di sini
ada banyak tantangan yang bermunculan, mulai dari alasan macet sehingga telat datang,
alasan belum mendapat inspirasi ketika telat mengumpulkan tugas, atau alasan
apologis lainnya, ditambah budaya telat yang menjadi habit. Perlu usaha dan perlu proses, ditambah semangkuk kesabaran. insyaAllah
bisa kok!
Kita
tidak akan pernah bisa melakukan perubahan jika kita tidak yakin dengan apa
yang kita inginkan. Dan langkah awal biasanya adalah langkah paling berat
melebihi langkah-langkah setelahnya. Jadi teorinya, setelah memutuskan status
apa yang hendak kita pakai, langkah di awal komitmen kita mungkin akan terasa
berat, tapi tidak akan lama kok, karena tak lama kemudian, kita bisa menikmati
sedapnya ontime, rasa tenang, tidak stres karena diburu-buru, atau
merasa bersalah. Siapa yang tidak mau?
Apalagi
dengan jiwa-jiwa perubah peradaban yang kita miliki, penuh dengan aliran dan
gelegak semangat. Seharusnya saat kita merasa mampu melakukan perubahan-perubahan
besar di negeri ini, maka hal itu tentunya dimulai dari hal-hal kecil namun sangat
esensi. Salah satunya adalah disiplin terhadap waktu. Jadi, bagaimana kalau kita coba dari sekarang,
kawan? |
| < Sebelumnya |
|---|














