|
Wirausahawan
Muda Dengan Modal 8 Juta Rupiah
Oleh Happy Rayna
Stephany
Siapa yang tidak kenal dengan Salman Azis?
Yups....rata-rata mahasiswa UI khususnya anak asrama dan mahasiswa
Fakultas Ilmu Komputer tahu dengan sosok ini. Salman Azis, mahasiswa Ilmu Komputer
angkatan 2003 ini dikenal sebagai seorang enterpreneur muda. Salman
adalah pemilik Warnet Gua di Asrama
UI yang berdiri sejak tanggal 13 September 2004.
Pada awalnya, niat dia ditentang oleh
orang tuanya karena orang tuanya ingin dia fokus dulu terhadap kuliahnya
setelah itu baru bekerja. Karena dia sangat gigih dan tidak ingin hidup di
bawah tekanan orang lain, dia terus berupaya meyakinkan orang tuanya untuk
mendukung keinginannya tersebut. Hanya dengan menggunakan kata-kata “Beri saya modal 8 juta saja setelah itu
jangan lagi.” orang tuanya luluh. Setelah itu, ia dapat membuktikan bahwa
dia serius dengan apa yang dijalaninya sehingga ia memperoleh penghargaan
sebagai Juara II tingkat Nasional Wirausaha Muda Mandiri yang diselenggarakan
oleh Bank Mandiri. Minggu, 6 April 2008 lalu, di tengah kesibukannya, Salman
Azis menerima tim KORAN KAMPUS di
warnetnya untuk berbincang-bincang seputar usaha yang tengah dijalaninya.
Berikut cuplikannya.
Apa benar hanya dengan menggunakan
kata-kata tersebut orang tua Salman luluh?
Ya....enggak juga. Saya juga beri
sedikit penjelasan bahwa selama apa yang kita lakukan tersebut bukanlah sesuatu
hal yang haram atau sesuatu hal yang tidak dilarang oleh agama, mengapa saya
mesti dilarang. Kuliah dan kerja bukanlah suatu hal yang saling berbenturan.
Oleh karena itu, selagi hal tersebut positif dan bermanfaat, harus didukung.
Setelah itu saya mengatakan “Beri saya
modal 8 juta saja, setelah itu tidak usah lagi.”
Terus percaya?
Percaya....karena beliau tertarik dan
sedikit tertantang untuk membuktikan kesungguhan akan niat saya dan ikut
semangat melihat semangat saya yang bergelora.
Kenapa Salman berani mengambil risiko
untuk sedikit berbeda pandangan dengan orang tua?
Selain seperti yang sudah saya sebutkan
tadi bahwa kedua hal tersebut bukanlah hal yang saling bertentangan, saya tidak
ingin hidup dibawah dogma orang lain. Yang menjalani hidup ini adalah kita
masing-masing. Yang menjalaninya adalah kita sendiri. Saya tidak ingin hidup
standar yaitu lahir, balita, sekolah dasar, SMP, SMA, kuliah, kerja, naik
jabatan, nikah, meninggal. Saya tidak ingin hanya seperti itu.
Oke, tapi bukankah hal tersebut susah
untuk dijalani? Padahal mereka kan ingin melihat anaknya berhasil?
Untuk mendapatkan sesuatu, harus
mengorbankan sesuatu. Walaupun kuliah saya sedikit terganggu, saya akhirnya
bisa mengatasinya dengan mengambil sedikit sks.
Bukankah dengan demikian, Salman jadi
terlambat untuk lulus? Apa enggak malu?
Kenapa mesti malu? Seorang pebisnis
tidak pernah hanyut dalam perasaan orang lain. Dan juga, kita diberi waktu 6
tahun, kenapa kita mesti cepat-cepat keluar? Kenapa tidak kita manfaatkan waktu
yang diberikan? Bukankah hal tersebut mubazir? Kita diberi waktu 6 tahun,
tetapi keluar 4 tahun. Kan mubazir 2 tahun. Dalam waktu 6 tahun itu, kita dapat
ilmu organisasi, manajemen orang, manajemen risiko, untung, dan ilmu gagal,
serta banyak lagi ilmu yang kita peroleh.
Enggak mubazir donk!
Kan 2 tahunnya digunakan untuk kerja?
Kerja dengan bisnis itu berbeda, kerja
itu enggak bisa benar-benar kaya karena kita tidak bisa menggandakan diri,
terus kalau sakit enggak ada pemasukan. Terus ide kreatif kita tidak bisa
direalisasikan kalau tidak disetujui atasan dan kalaupun disetujui tidak dapat
untung sebesar apa yang diberikan. Sedangkan bisnis enggak begitu. Apabila kita
mulai berbisnis pada saat telah lulus, wah,
itu enggak bisa karena kenyataannya kita dituntut untuk mengaplikasikan ilmu
sesuai dengan disiplin ilmu. Selain itu, kita juga enggak bisa langsung karena
mental yang terbentuk adalah mental untuk tidak mau mulai dari yang kecil. Enggak mau kan sarjana disuruh jualan
donat? Maunya pasti jadi manajernya.
Oke deh....Oh ya, tadi
dikatakan bahwa cukup dengan modal 8 juta saja dari orang tua, Salman bisa.
Emang modal yang dibutuhkan berapa?
Modal yang dibutuhkan berkisar 36
jutaan. Saya membuka usaha ini berdua dengan teman saya. Dia anak Fasilkom juga
angkatan 2003 juga, namanya Nasrul. Dia memberi modal 18 juta, sedangkan dari
saya pribadi 10 juta dan orang tua saya 8 juta. Uang 10 juta ini saya kumpulkan
sejak saya menduduki bangku SMA. Sebenarnya....sebelum saya membuka usaha ini,
saya pernah bekerja jual beli komputer dan memfotokopi buku-buku sekolah.
Hasilnya yah.... alhamdulillah memuaskan.
Saya berhasil mengumpulkan 9-10 juta tadi.
Wow....banyak bener dan ternyata
Salman mulai berbisnis sejak SMA, ya? Keren abis. Oh ya, bicara mengenai usaha,
apa saja sih yang perlu diperhatikan atau langkah-langkah apa saja sih yang
perlu ditempuh untuk memulai usaha ini?
Langkah awal yang terpenting adalah
modal. Untuk membuka usaha ini, diperlukan modal berkisar 30 jutaan ke atas.
Untuk yang standar 30-40 jutaan. Untuk modal senilai ini, biasanya hanya dapat
membeli komputer second. Untuk membeli komputer yang baru, diperlukan
modal 50 juta ke atas. Akan tetapi, tidak masalah komputer second karena
banyak yang masih bagus. Jadi, jangan
khawatir. Selain modal, yang diperlukan adalah perizinan membuka usaha, banyak
bertanya kepada orang yang pernah membuka usaha ini, survey untuk melihat apa
koneksi yang dipakai, program-program buat billing, cari tempat atau
daerah yang banyak mahasiswa dan pelajar khususnya SMA karena mereka lagi gandrung
dengan komputer dan internet. Setelah itu, sedikitnya kita harus tahu atau
paham dengan komputer serta gunakan koneksi yang tepat.
Emang koneksi yang tepat itu apa saja?
hm....contohnya Telkom, Indosat, dan
lain-lain.
Kalu Salman pake yang mana?
hmm.....rahasia
perusahaan....heheehe.....
Oke deh....oh ya
kendala-kendala yang pernah dihadapi apa saja ya?
Kendala-kendala yang pernah dihadapi
banyak. Mulai dari koneksi yang tidak stabil, mahasiswa pulang kampung, pegawai
yang kurang jujur sampai dengan pegawai yang tidak mengerti komputer.
Pengalaman menarik?
Sewaktu saya membuka usaha ini di
bilangan stasiun UP, ada pengalaman yang tak terlupakan, yaitu saya diancam
oleh orang-orang di sana yang membuka usaha sejenis. Mereka semua merupakan
satu keluarga yang berdarah dari Betawi. Pasalnya adalah saya meletakkan harga
sedikit rendah dibanding mereka. Print
saya taruh Rp 300 per lembar dan internet Rp 2900 per jam sedangkan disana print Rp 400 dan nge-net Rp 4000. Intinya
mereka kurang suka dengan kebijakan saya tersebut. Jadi, dikarenakan
mereka kurang puas, mereka sebanyak 10 orang membawa kayu dan mendatangi warnet
saya. Kebetulan saya tidak sedang berada disana. Jadi, mereka tidak sempat ngapa-apain
saya. Untungnya lagi, pegawai saya juga tidak diapa-apain. Akhirnya,
kasus ini dibawa dan diselesaikan oleh RT dan RW setempat dengan hasil saya
menaikkan harga menjadi Rp 400 buat print dan Rp 3000 untuk internet. Jadi,
saya tidak heran ada orang yang rela membunuh hanya demi cepek.
Waduh, serem banget...selain
pengalaman itu ada lagi ga?
Ada, yaitu percobaan perampokan dua kali
di tempat yang sama. Akhirnya, saya mengalah untuk tutup usaha warnet di sana.
Mengalah? Bukankah itu merupakan suatu
pembelajaran untuk dewasanya sebuah usaha? Kenapa tidak bertahan?
Seorang pebisnis atau jenderal yang baik
adalah dia yang maju ke sebuah medan pertempuran jika dia yakin dia akan
menang. Jadi, untuk kasus UP ini, saya ga yakin saya akan menang karena
dikelilingi oleh 10 orang yang jahat. Oleh karena itu, saya lebih baik mundur
dulu dari medan perang agar saya tidak hancur secara total sehingga bisa
membangun lagi pasukan saya dan menjadi lebih kuat.
Oke deh.....semoga usahanya semakin maju
ya.....pesan terakhir?
Jika kamu masuk bisnis, tempatkanlah
dirimu di tengah bara api sehingga pikiranmu menjadi kreatif bagaimana kamu
bisa keluar dari bara apa ini. Maksudnya adalah bagaimana kamu bisa tanggap
terhadap situasi dan melihat peluang-peluang apa yang bisa dilakukan serta
segera melakukannya.
Narasumber:
Salman Aziz Alsyafdi, Mahasiswa Fakultas Ilmu Komputer UI Angkatan 2003
|