Home arrow Blog arrow Wirausaha Islam

KALENDER KEGIATAN


Lihat Selengkapnya

INFO BEASISWA UI

Kemahasiswaan UI

Sahabat Kita

 
mahasiswa ui
 
 

 
www.fsifeui.org
 
 
 
www.ukhuwah.or.id
 
 
Wirausaha Islam
Wirausahawan Muda Dengan Modal 8 Juta Rupiah PDF Cetak E-mail
Ditulis Oleh Administrator   
Tuesday, 29 April 2008

Wirausahawan Muda Dengan Modal 8 Juta Rupiah

Oleh Happy Rayna Stephany

 

Siapa yang tidak kenal dengan Salman Azis? Yups....rata-rata mahasiswa UI khususnya anak asrama dan mahasiswa Fakultas Ilmu Komputer tahu dengan sosok ini. Salman Azis, mahasiswa Ilmu Komputer angkatan 2003 ini dikenal sebagai seorang enterpreneur muda. Salman adalah pemilik Warnet Gua di Asrama UI yang berdiri sejak tanggal 13 September 2004.

Pada awalnya, niat dia ditentang oleh orang tuanya karena orang tuanya ingin dia fokus dulu terhadap kuliahnya setelah itu baru bekerja. Karena dia sangat gigih dan tidak ingin hidup di bawah tekanan orang lain, dia terus berupaya meyakinkan orang tuanya untuk mendukung keinginannya tersebut. Hanya dengan menggunakan kata-kata “Beri saya modal 8 juta saja setelah itu jangan lagi.” orang tuanya luluh. Setelah itu, ia dapat membuktikan bahwa dia serius dengan apa yang dijalaninya sehingga ia memperoleh penghargaan sebagai Juara II tingkat Nasional Wirausaha Muda Mandiri yang diselenggarakan oleh Bank Mandiri. Minggu, 6 April 2008 lalu, di tengah kesibukannya, Salman Azis menerima tim KORAN KAMPUS di warnetnya untuk berbincang-bincang seputar usaha yang tengah dijalaninya. Berikut cuplikannya.

 

Apa benar hanya dengan menggunakan kata-kata tersebut orang tua Salman luluh?

Ya....enggak juga. Saya juga beri sedikit penjelasan bahwa selama apa yang kita lakukan tersebut bukanlah sesuatu hal yang haram atau sesuatu hal yang tidak dilarang oleh agama, mengapa saya mesti dilarang. Kuliah dan kerja bukanlah suatu hal yang saling berbenturan. Oleh karena itu, selagi hal tersebut positif dan bermanfaat, harus didukung. Setelah itu saya mengatakan “Beri saya modal 8 juta saja, setelah itu tidak usah lagi.”

 

Terus percaya?

Percaya....karena beliau tertarik dan sedikit tertantang untuk membuktikan kesungguhan akan niat saya dan ikut semangat melihat semangat saya yang bergelora.

 

Kenapa Salman berani mengambil risiko untuk sedikit berbeda pandangan dengan orang tua?

Selain seperti yang sudah saya sebutkan tadi bahwa kedua hal tersebut bukanlah hal yang saling bertentangan, saya tidak ingin hidup dibawah dogma orang lain. Yang menjalani hidup ini adalah kita masing-masing. Yang menjalaninya adalah kita sendiri. Saya tidak ingin hidup standar yaitu lahir, balita, sekolah dasar, SMP, SMA, kuliah, kerja, naik jabatan, nikah, meninggal. Saya tidak ingin hanya seperti itu.

 

Oke, tapi bukankah hal tersebut susah untuk dijalani? Padahal mereka kan ingin melihat anaknya berhasil?

Untuk mendapatkan sesuatu, harus mengorbankan sesuatu. Walaupun kuliah saya sedikit terganggu, saya akhirnya bisa mengatasinya dengan mengambil sedikit sks.

 

Bukankah dengan demikian, Salman jadi terlambat untuk lulus? Apa enggak malu?

Kenapa mesti malu? Seorang pebisnis tidak pernah hanyut dalam perasaan orang lain. Dan juga, kita diberi waktu 6 tahun, kenapa kita mesti cepat-cepat keluar? Kenapa tidak kita manfaatkan waktu yang diberikan? Bukankah hal tersebut mubazir? Kita diberi waktu 6 tahun, tetapi keluar 4 tahun. Kan mubazir 2 tahun. Dalam waktu 6 tahun itu, kita dapat ilmu organisasi, manajemen orang, manajemen risiko, untung, dan ilmu gagal, serta banyak lagi ilmu yang kita peroleh.

 

Enggak mubazir donk! Kan 2 tahunnya digunakan untuk kerja?

Kerja dengan bisnis itu berbeda, kerja itu enggak bisa benar-benar kaya karena kita tidak bisa menggandakan diri, terus kalau sakit enggak ada pemasukan. Terus ide kreatif kita tidak bisa direalisasikan kalau tidak disetujui atasan dan kalaupun disetujui tidak dapat untung sebesar apa yang diberikan. Sedangkan bisnis enggak begitu. Apabila kita mulai berbisnis pada saat telah lulus, wah, itu enggak bisa karena kenyataannya kita dituntut untuk mengaplikasikan ilmu sesuai dengan disiplin ilmu. Selain itu, kita juga enggak bisa langsung karena mental yang terbentuk adalah mental untuk tidak mau mulai dari yang kecil. Enggak mau kan sarjana disuruh jualan donat? Maunya pasti jadi manajernya.

 

Oke deh....Oh ya, tadi dikatakan bahwa cukup dengan modal 8 juta saja dari orang tua, Salman bisa. Emang modal yang dibutuhkan berapa?

Modal yang dibutuhkan berkisar 36 jutaan. Saya membuka usaha ini berdua dengan teman saya. Dia anak Fasilkom juga angkatan 2003 juga, namanya Nasrul. Dia memberi modal 18 juta, sedangkan dari saya pribadi 10 juta dan orang tua saya 8 juta. Uang 10 juta ini saya kumpulkan sejak saya menduduki bangku SMA. Sebenarnya....sebelum saya membuka usaha ini, saya pernah bekerja jual beli komputer dan memfotokopi buku-buku sekolah. Hasilnya yah.... alhamdulillah memuaskan. Saya berhasil mengumpulkan 9-10 juta tadi.

 

Wow....banyak bener dan ternyata Salman mulai berbisnis sejak SMA, ya? Keren abis. Oh ya, bicara mengenai usaha, apa saja sih yang perlu diperhatikan atau langkah-langkah apa saja sih yang perlu ditempuh untuk memulai usaha ini?

Langkah awal yang terpenting adalah modal. Untuk membuka usaha ini, diperlukan modal berkisar 30 jutaan ke atas. Untuk yang standar 30-40 jutaan. Untuk modal senilai ini, biasanya hanya dapat membeli komputer second. Untuk membeli komputer yang baru, diperlukan modal 50 juta ke atas. Akan tetapi, tidak masalah komputer second karena banyak  yang masih bagus. Jadi, jangan khawatir. Selain modal, yang diperlukan adalah perizinan membuka usaha, banyak bertanya kepada orang yang pernah membuka usaha ini, survey untuk melihat apa koneksi yang dipakai, program-program buat billing, cari tempat atau daerah yang banyak mahasiswa dan pelajar khususnya SMA karena mereka lagi gandrung dengan komputer dan internet. Setelah itu, sedikitnya kita harus tahu atau paham dengan komputer serta gunakan koneksi yang tepat.

 

Emang koneksi yang tepat itu apa saja?

hm....contohnya Telkom, Indosat, dan lain-lain.

 

Kalu Salman pake yang mana?

hmm.....rahasia perusahaan....heheehe.....

 

Oke deh....oh ya kendala-kendala yang pernah dihadapi apa saja ya?

Kendala-kendala yang pernah dihadapi banyak. Mulai dari koneksi yang tidak stabil, mahasiswa pulang kampung, pegawai yang kurang jujur sampai dengan pegawai yang tidak mengerti komputer.

 

Pengalaman menarik?

Sewaktu saya membuka usaha ini di bilangan stasiun UP, ada pengalaman yang tak terlupakan, yaitu saya diancam oleh orang-orang di sana yang membuka usaha sejenis. Mereka semua merupakan satu keluarga yang berdarah dari Betawi. Pasalnya adalah saya meletakkan harga sedikit rendah dibanding mereka. Print saya taruh Rp 300 per lembar dan internet Rp 2900 per jam sedangkan disana print Rp 400 dan nge-net Rp 4000. Intinya  mereka kurang suka dengan kebijakan saya tersebut. Jadi, dikarenakan mereka kurang puas, mereka sebanyak 10 orang membawa kayu dan mendatangi warnet saya. Kebetulan saya tidak sedang berada disana. Jadi, mereka tidak sempat ngapa-apain saya. Untungnya lagi, pegawai saya juga tidak diapa-apain. Akhirnya, kasus ini dibawa dan diselesaikan oleh RT dan RW setempat dengan hasil saya menaikkan harga menjadi Rp 400 buat print dan Rp 3000 untuk internet. Jadi, saya tidak heran ada orang yang rela membunuh hanya demi cepek.

 

Waduh, serem banget...selain pengalaman itu ada lagi ga?

Ada, yaitu percobaan perampokan dua kali di tempat yang sama. Akhirnya, saya mengalah untuk tutup usaha warnet di sana.

 

Mengalah? Bukankah itu merupakan suatu pembelajaran untuk dewasanya sebuah usaha? Kenapa tidak bertahan?

Seorang pebisnis atau jenderal yang baik adalah dia yang maju ke sebuah medan pertempuran jika dia yakin dia akan menang. Jadi, untuk kasus UP ini, saya ga yakin saya akan menang karena dikelilingi oleh 10 orang yang jahat. Oleh karena itu, saya lebih baik mundur dulu dari medan perang agar saya tidak hancur secara total sehingga bisa membangun lagi pasukan saya dan menjadi lebih kuat.

 

Oke deh.....semoga usahanya semakin maju ya.....pesan terakhir?

Jika kamu masuk bisnis, tempatkanlah dirimu di tengah bara api sehingga pikiranmu menjadi kreatif bagaimana kamu bisa keluar dari bara apa ini. Maksudnya adalah bagaimana kamu bisa tanggap terhadap situasi dan melihat peluang-peluang apa yang bisa dilakukan serta segera melakukannya.

 

Narasumber: Salman Aziz Alsyafdi, Mahasiswa Fakultas Ilmu Komputer UI Angkatan 2003

Pemutakhiran Terakhir ( Tuesday, 29 April 2008 )